Sabtu, 30 April 2016

Salam Hangat dari Enggano

Merasa bersyukur sekali sebelum seperti malam ini bisa menikmati listrik 24 jam yang mungkin sadar tidak sadar pernah terbuang percuma, akses jalan yang mulus rapi yang hampir tidak pernah ada goncangan, transportasi yang serba mendukung dalam bentuk apapun itu, dan signal yang bisa ditemukan dimana mana.

Dari Pelabuhan  Desa Malakoni, Pulau Enggano
Minggu, 17 April 2016 dari Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu, saya bertolak menuju Pulau Enggano menggunakan KMP. Pulo Tello. Pulau Enggano merupakan salah satu pulau terluar yang masuk dalam wilayah administrasi kabupaten Bengkulu Utara, yang lebih mudah ditempuh dari pelabuhan Kota Bengkulu. Satu hal yang terbersit difikiran saya, sanggupkah saya menempuh perjalanan laut selama 12 jam? Dari yang selama ini menempuh perjalanan laut hanya selama 2 jam. Akhirnya berusaha meyakinkan diri sendiri, jika saat ini saya dalam kondisi ini artinya Tuhan sudah mempersiapkan segalanya. Bismillah, kapalpun berangkat sesaat setelah alarm berbunyi dan waktu menunjukkan pukul 17.20 wib.

Belum satu jam kapal bergerak dari pelabuhan, saya diserang mual hebat ditambah kepala pusing. Mau tidak mau harus dikeluarkan semuanya. Meskipun posisi duduk cukup nyaman, tapi goyangan kapal tidak bisa berdusta, fix saya mabuk. Sempat terulang beberapa kali, akhirnya bisa merasa lebih baik dengan bantuan fresh care. Saya memang tidak begitu menikmati perjalanan perdana saya menuju Enggano. Selain faktor mabuk laut, juga kondisinya saat itu malam hari. Tapi satu hal pasti yang saya nikmati adalah keberanian dalam diri seorang wanita untuk menempuh perjalanan yang bisa dibilang tidak mudah, seorang diri, dan sama sekali belum pernah terbayangkan akan bertugas di salah satu pulau kecil terluar.

Setelah mengarungi lautan selama hampir 10 jam yang ternyata lebih cepat dari biasanya, suara seorang wanita cantik seperti membawa angin segar saat pukul 03.50 dini hari waktu itu yang memberitahukan bahwa kapal akan segera bersandar di Pelabuhan Kahyapu Enggano. Alhamdulillah Welcome to Enggano. Faktor suasana yang masih gelap membuat saya tidak bisa menyaksikan wujud anggun pulau ini untuk pertama kalinya. Namun saya bersyukur akan menikmati sunrise di Enggano yang pertama kalinya.

Sambil menunggu keadaan menjadi sedikit terang, warung yang berada persis di depan pelabuhan menjadi pilihan saya. Warung sederhana dengan penerangan seadanya mengingat listriknya akan mati sebentar lagi, namun menjadi penolong bagi kami penumpang yang baru saja turun dari kapal. Aroma khas kopi dan tehh yang baru diseduh air panas menjadi sedikit penenang setelah mabuk. Segelas tehh hangat dan sepiring lontong sayur pun menjadi teman saya menunggu pagi.


Akhirnya pada pukul 05.20 saya pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Desa yang akan saya tuju berada hampir dibagian utara pulau ini dan merupakan desa terakhir, yaitu desa Banjarsari. Butuh waktu 1 jam bahkan lebih untuk sampai kesana dari pelabuhan desa kahyapu. Selain karena letaknya yang memang berada di ujung pulau, juga karena jalan yang rusak dan berlumpur yang butuh sedikit perjuangan untuk melewatinya apalagi dengan sepeda motor. finally sama seperti dugaan saya, perjalanan pagi itu disambut hangat dengan terbitnya matahari yang membawa hawa segar untuk hati, fikiran, dan badan. Semoga menjadi awal yang baik. Amin 

Selasa, 05 April 2016

Bengkulu Here we go

Hari pelatihan selesai, dan akhirnya masing-masing dari kami para fasilitator ppkt harus bersiap-siap untuk menuju lokasi penempatan. Minggu, 3 April 2016 menjadi malam terakhir kami berkumpul bersama sebelum besok berpisah dan berpencar ke tujuan masing-masing. Malam itu pun ditutup dengan makan malam bersama fasilitator dan juga para manajer lapangan, yang kemudian dilanjutkan dengan tes suara setiti, alias karaoke. Sadar gak sadar satu persatu keliatan karakternya pas lagi asik dengan lagu lagu pilihannya, but that’s so fun.

Senin, 4 April akhirnya sebagian fasilitator dan manajer lapangan mulai meluncur ke lokasi masing-masing, hanya tersisa beberapa orang saja yang juga akan berangkat pada hari selanjutnya. Saya sendiri memilih untuk berangkat ke bandara pada pukul 12.00 wib meskipun pesawat saya pukul 15.00, tidak lain tidak bukan agar terhindar macetnya jakarta.

Saat pertama kali landing di Bumi Raflesia

Alhamdulillah ada rejeki dalam perjalanan ke bengkulu untuk pertama kalinya. Di bandara bertemu sepasang suami istri dengan tujuan sama ke bengkulu, setelah berbincang beberapa saat mereka mengatakan bahwa mereka kenal dekat dengan beberapa staf/kepala instansi/dinas yang akan saya kunjungi untuk kordinasi awal di bengkulu. Keberuntungan kedua, awalnya saya berencana mengandalkan jasa taxi untuk mengantarkan saya, namun sepasang suami istri ini dengan baik hatinya menawarkan untuk ikut dengan mobil mereka dan akan mengantarkan saya ke tujuan. How lucky I am.

Cuma itu? Tidak, ada lagi. Keberuntungan ketiga ada teman baik hati yang menawarkan saya untuk menginap dirumahnya saat di kota bengkulu. Disini saya merasa betapa beruntungnya punya banyak teman dimana mana. Mengingat sebagai orang yang bekerja diluar daerah sendiri alias perantau, hal-hal seperti itu alias hal-hal yang bersifat gratis, akan sangat dinanti-nanti,heheh. Thanks God.

Suasana sore yang tenang serta tulisan di plang “Selamat Datang di Kota Bengkulu, Kota Semarak” menyambut dengan manisnya kehadiran seorang wanita lain pulau ini,hehehe. Sepanjang jalan menuju rumah teman saya asik menikmati sore menjelang magrib sambil berbincang dengan sepasang suami istri tadi dan seorang anaknya yang menjemput.

Bagi saya kota bengkulu ini memiliki ciri khas tersendiri juga dari kota – kota lain di Indonesia, tenang dan nyaman. Dan dari sinilah saya akan melanjutkan perjalanan ke pulau enggano nanti. Malam pertama di bengkulu saya gunakan untuk menikmati sepiring nasi ditambah dengan ikan nila goreng, tempe tahu dan sambelnya, dan ditutup dengan segelas es jeruk, alhamdulillah nikmat sekali.

Hari kedua rencana akan saya gunakan untuk memulai kordinasi awal dengan beberapa instansi/dinas yang ada di kota bengkulu sekaligus sebagai salam saya yang telah memasuki wilayah provinsi bengkulu ini. Dan selanjutnya akan menyesuaikan dengan jadwal kapal yang akan membawa saya ke pulau enggano nanti. Semoga selalu dalam lindunganNYA, dan semoga saja keberuntungan selalu menyertai, Amin :D





Minggu, 03 April 2016

Mix and Match Pelatihan Fasilitator Masyarakat PPKT 2016

Kenapa mix and match? Karena bagi saya dalam mix and match it means kita mempertemukan, bertemu, berkumpul, berselaras, berkolaborasi untuk satu tujuan yang sama. Bukan hanya soal fashion atau passion, tapi lebih kepada kemampuan kita bisa memanfaatkan segala sesuatu yang bisa di mix and match sampai akhirnya menghasilkan apa yang diharapkan.

Senin, 28 Maret kemarin saya bertolak dari bandara Haluoleo menuju Soekarno Hatta setelah mendapatkan undangan untuk Pelatihan Fasilitator Masyarakat PPKT dan juga setelah kode booking berhasil dikirim via whatsapp. Setelah sempat transit sebentar di Sultan Hasanuddin, akhirnya ketika adzan magrib berkumandang manis untuk wilayah ibukota dan sekitarnya,kuda besi yang saya tumpangi pun mendarat dengan anggunnya.

Setelah kegiatan Studi Lapangan di Teluk Naga, Tangerang
Kegiatan Pelatihan Fasilitator ini sendiri tidak lain bertujuan untuk membekali kami yang beruntung bisa terpilih dari ribuan pendaftar untuk sama sama belajar dan mengetahui tentang apa apa saja yang akan dan bisa kita lakukan di lokasi penempatan nanti. Program yang melibatkan beberapa pihak seperti Kementrian kelautan dan perikanan, GIZ, dan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia.  Saya sendiri mendapat wilayah penempatan di salah satu pulau kecil terluar yang ada di Provinsi Bengkulu, yaitu Pulau Enggano.

Kegiatan ini berlangsung selama satu minggu, disalah satu hotel di Ibukota. Kami berjumlah 18 orang untuk fasilitator dan 15 orang untuk manajer lapangan. Meskipun berasal dari daerah yang berbeda-beda, usia berbeda, latar belakang pendidikan yang juga berbeda, namun hal itu tidak menjadi halangan bagi kami untuk bisa saling mengenal, sharing, dan bercanda layaknya orang yang sudah lama saling kenal.

Pemaparan salah satu pemateri
Rute kami setiap hari hanya berkutat di ballroom hotel, lantai 6, lantai 7, dan lantai letak kamar kami masing-masing. Namun secara tidak langsung juga dari satu minggu yang dilalui dengan kegiatan yang sama dan bertemu orang – orang yang itu itu saja, akhirnya terjalin sebuah kedekatan yang cukup baik. Jam 8 sarapan pagi, 08.30 masuk ruangan, ice breaking dari pak sony dan pak aw yang super kece, terima materi, siang ishoma, masuk materi lagi, break 15 menit untuk snack lanjut lagi then terus berulang sampai hari terakhir. 

Bersama Pak Tio, Dirjen Pengelolaan ruang laut
But tidak bisa dipungkiri juga banyak sekali hal hal menarik, lucu, dan berkesan selama pelatihan berlangsung :D dimulai dari adegan curi curi waktu pada saat materi berlangsung untuk sekedar ke toilet padahal gak ingin buang air kecil, adegan nyobain kolam renang hotel yang lagi ada bule juga lagi renang , adegan ngerumpi di salah satu kamar pas malam, bolak balik lift gara-gara kunci kamar gak berfungsi, melipat kertas menjadi burung pas materi berlangsung biar gak ngantuk, cara beberapa pemateri membawakan materinya yang bikin kami tertawa lepas dan hal-hal lainnya yang mungkin kalau ditulis bisa mengalahkan serial Uttaran :D

Finally, sore ini saya sedang menikmati saat-saat sebelum terjun ke pulau, sambil berbenah untuk hal-hal yang perlu dipersiapkan. Omongan raditya dika dan uus di tv ternyata sukses memutar otomatis hal hal dari kegiatan seminggu ini yang terekam di otak, dan jaripun menuliskannya dengan santai.