Merasa bersyukur
sekali sebelum seperti malam ini bisa menikmati listrik 24 jam yang mungkin
sadar tidak sadar pernah terbuang percuma, akses jalan yang mulus rapi yang
hampir tidak pernah ada goncangan, transportasi yang serba mendukung dalam
bentuk apapun itu, dan signal yang bisa ditemukan dimana mana.
![]() |
| Dari Pelabuhan Desa Malakoni, Pulau Enggano |
Minggu, 17 April 2016
dari Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu, saya bertolak menuju Pulau Enggano
menggunakan KMP. Pulo Tello. Pulau Enggano merupakan salah satu pulau terluar
yang masuk dalam wilayah administrasi kabupaten Bengkulu Utara, yang lebih
mudah ditempuh dari pelabuhan Kota Bengkulu. Satu hal yang terbersit difikiran
saya, sanggupkah saya menempuh perjalanan laut selama 12 jam? Dari yang selama
ini menempuh perjalanan laut hanya selama 2 jam. Akhirnya berusaha meyakinkan
diri sendiri, jika saat ini saya dalam kondisi ini artinya Tuhan sudah
mempersiapkan segalanya. Bismillah, kapalpun berangkat sesaat setelah alarm
berbunyi dan waktu menunjukkan pukul 17.20 wib.
Belum satu jam kapal
bergerak dari pelabuhan, saya diserang mual hebat ditambah kepala pusing. Mau
tidak mau harus dikeluarkan semuanya. Meskipun posisi duduk cukup nyaman, tapi
goyangan kapal tidak bisa berdusta, fix saya mabuk. Sempat terulang beberapa
kali, akhirnya bisa merasa lebih baik dengan bantuan fresh care. Saya memang
tidak begitu menikmati perjalanan perdana saya menuju Enggano. Selain faktor
mabuk laut, juga kondisinya saat itu malam hari. Tapi satu hal pasti yang saya
nikmati adalah keberanian dalam diri seorang wanita untuk menempuh perjalanan
yang bisa dibilang tidak mudah, seorang diri, dan sama sekali belum pernah
terbayangkan akan bertugas di salah satu pulau kecil terluar.
Setelah mengarungi
lautan selama hampir 10 jam yang ternyata lebih cepat dari biasanya, suara
seorang wanita cantik seperti membawa angin segar saat pukul 03.50 dini hari
waktu itu yang memberitahukan bahwa kapal akan segera bersandar di Pelabuhan
Kahyapu Enggano. Alhamdulillah Welcome to Enggano. Faktor suasana yang masih
gelap membuat saya tidak bisa menyaksikan wujud anggun pulau ini untuk pertama
kalinya. Namun saya bersyukur akan menikmati sunrise di Enggano yang pertama
kalinya.
Sambil menunggu
keadaan menjadi sedikit terang, warung yang berada persis di depan pelabuhan
menjadi pilihan saya. Warung sederhana dengan penerangan seadanya mengingat
listriknya akan mati sebentar lagi, namun menjadi penolong bagi kami penumpang
yang baru saja turun dari kapal. Aroma khas kopi dan tehh yang baru diseduh air
panas menjadi sedikit penenang setelah mabuk. Segelas tehh hangat dan sepiring
lontong sayur pun menjadi teman saya menunggu pagi.
Akhirnya pada pukul
05.20 saya pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Desa yang akan saya
tuju berada hampir dibagian utara pulau ini dan merupakan desa terakhir, yaitu
desa Banjarsari. Butuh waktu 1 jam bahkan lebih untuk sampai kesana dari pelabuhan
desa kahyapu. Selain karena letaknya yang memang berada di ujung pulau, juga
karena jalan yang rusak dan berlumpur yang butuh sedikit perjuangan untuk
melewatinya apalagi dengan sepeda motor. finally sama seperti dugaan saya,
perjalanan pagi itu disambut hangat dengan terbitnya matahari yang membawa hawa
segar untuk hati, fikiran, dan badan. Semoga menjadi awal yang baik. Amin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar