Minggu, 25 Maret 2018

Selamat Datang di Enrekang


Cukup lama tidak menulis, entah bagaimana ceritanya hujan yang mengguyur Kota Enrekang siang ini tiba – tiba memberi sedikit suntikan mood untuk menulis lagi dari sudut kamar kosan. Hujan, segelas susu, dan memori perjalanan dikepala yang terputar otomatis, what a nice sunday, right? Sebetulnya begitu banyak cerita perjalanan dari daerah daerah lain yang sudah tertampung di fikiran yang rasanya (cukup) menarik untuk diceritakan. tapi mood menulis memang baru saja menyapa saat ini….hahaha #abaikanpembukaanyangtidakbegitupentingini :D


Selesai dari pekerjaan saya yang terakhir  di Pulau Enggano, Bengkulu Utara, saya kembali memilih untuk mencoba belajar di NGO lain. Dan setelah kurang lebih 3 bulan sejak proses apply sampai interview, saya akhirnya dihubungi oleh NGO tempat saya bekerja saat ini. Kabupaten Enrekang akhirnya menjadi lokasi tugas saya. Saya pikir tidak ada masalah dengan wilayah tugas, selagi saya bisa belajar banyak disana. Dan menurut saya juga akan menjadi pengalaman baru karena lokasi tugas sebelumnya lebih banyak di wilayah sumatra daripada di sulawesi sendiri. 

Well, tanggal 11 februari akhirnya saya bertolak dari Kota Kendari menuju Kota Makassar. mengingat ini adalah pengalaman pertama saya akan ke Enrekang, sebelum terbang saya terlebih dahulu sudah menghubungi teman yang kebetulan orang asli Enrekang, meskipun dia bekerja di Kendari. Mulai dari mencari tahu transportasi yang akan mengantarkan saya ke Enrekang, dan mencari tahu tentang situasi kondisi disana, tentang kosan dll. Enrekang sendiri merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. jaraknya sekitar 250 km dari Kota Makassar, ibukota Sulawesi Selatan. Beruntung teman saya dengan begitu baiknya memberikan informasi dan membantu mencarikan transportasi yang menuju Enrekang. Terima kasih ya,,,semoga semakin melimpah rezekinya hehehe….

Sempat khawatir sebernarnya dalam perjalanan ini berhubung besoknya 12 februari hari pertama saya bekerja, sedangkan saya baru dapat penerbangan ke Makassar pukul 20.00 wita. Dan menurut informasi perjalanan ke Enrekang memakan waktu sekitar 4 sampai 5 jam. Dan kekhawatiran saya bertambah ketika terdengar informasi bahwa pesawat yang akan saya gunakan delay pemirsa. Sementara info dari teman saya mobil yang berangkat ke enrekang akan berangkat jam 1 dini hari, takutnya delaynya akan lama. Namun ternyata pukul 21.00 kurang beberapa menit panggilan untuk penumpang ke Makassar akhirnya terdengar. Dan pukul 22.00 lebih 10 menit saya pun tiba di Makassar.

Setelah tiba saya langsung menghubungi supir mobil yang akan menjemput, dan dia memberitahu akan menjemput saya jam stengah 2 dini hari. Pikir saya masih ada beberapa jam waktu, akhirnya saya menghubungi kakak saya untuk menjemput di bandara. Setelah makan dan lain lain, mata tidak bisa diajak kompromi lagi rupanya, dan saya meminta kakak untuk membangunkan saya pukul setengah 2. Namun belum ada kabar dari om supir. Sempat tertidur kembali, jam 3 kurang akhirnya saya dihubungi oleh supir dan dia mengatakan sudah berada di dekat alamat yang saya berikan.

Jam 3 tepat dini hari, akhirnya saya berangkat menuju Enrekang. Bismillah, ini pertama kalinya, semoga perjalanan saya aman dan lancar, doa saya dalam hati. Tidak banyak yang bisa saya lihat sepanjang perjalanan, berhubung masih sangat gelap. Di mobil jenis innova kami bersembilan. Cukup padat sebenarnya, supir, dua orang disamping supir, tiga orang di kursi ditengah termaksud saya sendiri, dan tiga orang juga di belakang. Sebenarnya ada pilihan transportasi lain, seperti bus yang mungkin lebih nyaman karena tidak duduk berdesakan. namun kalau bus kita hanya berhenti diterminal atau di pinggir jalan, karena busnya tidak bisa mengantarkan kita langsung ke alamat. Selain itu juga biayanya lebih mahal dari pada kita menggunakan mobil penumpang biasa.


Dan karena menurut teman saya, ini baru pertama kali saya ke Enrekang, lebih baik jika saya menggunakan mobil penumpang biasa yang bisa mengantarkan langsung ke alamat dengan biaya 100 rb/orang. Dalam perjalanan kembali terpikir lagi apakah saya akan tiba tepat waktu, berhubung kami baru berangkat jam 3 dari makassar. perhitungan saya jika 5 sampai 6 jam maka akan tiba di Enrekang sekitar pukul 8 atau 9 pagi. Dan sudah pasti saya akan terlambat. Tapi ya sudahlah….mau bagaimana lagi.

Sepanjang perjalanan hanya terlihat beberapa mobil/motor yang lewat dari arah yang sama ataupun berlawanan. Tidak terlalu ramai menurut saya, karena memang masih gelap. Untungnya jalan yang kami lewati sebagian besar dalam kondisi bagus dan cukup lebar. Saya sempat tertidur beberapa saat, sampai akhirnya tidak terasa kami sudah tiba di pare – pare dan mampir ke mesjid pas dengan adzan subuh berkumandang. Mobilnya memang melaju cukup kencang menurut saya, meskipun tertidur tapi sempat beberapa kali melek dan melihat memang laju mobilnya sangat kencang. Saya cuma bisa berdoa dalam hati, semoga semuanya aman aman saja.

Pukul 5 lebih beberapa menit kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Enrekang. Setau saya dari informasi yang saya baca, dari Makassar kita melewati beberapa kabupaten lainnya memang sebelum tiba di Enrekang seperti  Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Pare – Pare, baru kemudian Enrekang. Sebetulnya sangat ingin melihat penampakan beberapa kabupaten ini, namun karena saya mengambil perjalanan malam sehingga next time baru bisa terlihat jika mengambil perjalanan pagi atau siang.

Pukul 6 pagi akhirnya kami memasuki wilayah perbatasan kabupaten Enrekang. Plang selamat datang terpampang jelas di hadapan. Namun kita masih butuh sekitar satu jam lagi ternyata untuk sampai di pusat kotanya. Dan persis pukul 7 akhirnya saya tiba di alamat yang dituju, penginapan lebih tepatnya heheh. Berhubung saya belum mendapat kosan karena hasil googling tidak menunjukkan apa – apa dan hanya menunjukkan penginapan. Tak apalah menurut saya. Saya baru akan mencari kosan setelah ini.

Tiba di penginapan pukul 7, masih ada satu jam lagi sebelum ke kantor. Saya sengaja mencari penginapan yang memang dekat dengan kantor, sangat dekat bahkan biar saya tidak perlu terlalu terburu – buru. Berhubung cukup melelahkan saya memilih istirahat sebentar meluruskan badan, sebelum mandi dan bersiap ke kantor. Selamat Pagi Enrekang, cukup sejuk menurut saya, karena Enrekang merupakan kabupaten yang dikelilingi dengan pegunungan. Jangan cari pantai disini hahaha….

That’s all mungkin untuk cerita perjalanan ini, next time akan saya bagi lagi tentang pekerjaan saya disini, tentang Enrekang, dan lain lainnya…Thank You



Sabtu, 30 April 2016

Salam Hangat dari Enggano

Merasa bersyukur sekali sebelum seperti malam ini bisa menikmati listrik 24 jam yang mungkin sadar tidak sadar pernah terbuang percuma, akses jalan yang mulus rapi yang hampir tidak pernah ada goncangan, transportasi yang serba mendukung dalam bentuk apapun itu, dan signal yang bisa ditemukan dimana mana.

Dari Pelabuhan  Desa Malakoni, Pulau Enggano
Minggu, 17 April 2016 dari Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu, saya bertolak menuju Pulau Enggano menggunakan KMP. Pulo Tello. Pulau Enggano merupakan salah satu pulau terluar yang masuk dalam wilayah administrasi kabupaten Bengkulu Utara, yang lebih mudah ditempuh dari pelabuhan Kota Bengkulu. Satu hal yang terbersit difikiran saya, sanggupkah saya menempuh perjalanan laut selama 12 jam? Dari yang selama ini menempuh perjalanan laut hanya selama 2 jam. Akhirnya berusaha meyakinkan diri sendiri, jika saat ini saya dalam kondisi ini artinya Tuhan sudah mempersiapkan segalanya. Bismillah, kapalpun berangkat sesaat setelah alarm berbunyi dan waktu menunjukkan pukul 17.20 wib.

Belum satu jam kapal bergerak dari pelabuhan, saya diserang mual hebat ditambah kepala pusing. Mau tidak mau harus dikeluarkan semuanya. Meskipun posisi duduk cukup nyaman, tapi goyangan kapal tidak bisa berdusta, fix saya mabuk. Sempat terulang beberapa kali, akhirnya bisa merasa lebih baik dengan bantuan fresh care. Saya memang tidak begitu menikmati perjalanan perdana saya menuju Enggano. Selain faktor mabuk laut, juga kondisinya saat itu malam hari. Tapi satu hal pasti yang saya nikmati adalah keberanian dalam diri seorang wanita untuk menempuh perjalanan yang bisa dibilang tidak mudah, seorang diri, dan sama sekali belum pernah terbayangkan akan bertugas di salah satu pulau kecil terluar.

Setelah mengarungi lautan selama hampir 10 jam yang ternyata lebih cepat dari biasanya, suara seorang wanita cantik seperti membawa angin segar saat pukul 03.50 dini hari waktu itu yang memberitahukan bahwa kapal akan segera bersandar di Pelabuhan Kahyapu Enggano. Alhamdulillah Welcome to Enggano. Faktor suasana yang masih gelap membuat saya tidak bisa menyaksikan wujud anggun pulau ini untuk pertama kalinya. Namun saya bersyukur akan menikmati sunrise di Enggano yang pertama kalinya.

Sambil menunggu keadaan menjadi sedikit terang, warung yang berada persis di depan pelabuhan menjadi pilihan saya. Warung sederhana dengan penerangan seadanya mengingat listriknya akan mati sebentar lagi, namun menjadi penolong bagi kami penumpang yang baru saja turun dari kapal. Aroma khas kopi dan tehh yang baru diseduh air panas menjadi sedikit penenang setelah mabuk. Segelas tehh hangat dan sepiring lontong sayur pun menjadi teman saya menunggu pagi.


Akhirnya pada pukul 05.20 saya pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Desa yang akan saya tuju berada hampir dibagian utara pulau ini dan merupakan desa terakhir, yaitu desa Banjarsari. Butuh waktu 1 jam bahkan lebih untuk sampai kesana dari pelabuhan desa kahyapu. Selain karena letaknya yang memang berada di ujung pulau, juga karena jalan yang rusak dan berlumpur yang butuh sedikit perjuangan untuk melewatinya apalagi dengan sepeda motor. finally sama seperti dugaan saya, perjalanan pagi itu disambut hangat dengan terbitnya matahari yang membawa hawa segar untuk hati, fikiran, dan badan. Semoga menjadi awal yang baik. Amin 

Selasa, 05 April 2016

Bengkulu Here we go

Hari pelatihan selesai, dan akhirnya masing-masing dari kami para fasilitator ppkt harus bersiap-siap untuk menuju lokasi penempatan. Minggu, 3 April 2016 menjadi malam terakhir kami berkumpul bersama sebelum besok berpisah dan berpencar ke tujuan masing-masing. Malam itu pun ditutup dengan makan malam bersama fasilitator dan juga para manajer lapangan, yang kemudian dilanjutkan dengan tes suara setiti, alias karaoke. Sadar gak sadar satu persatu keliatan karakternya pas lagi asik dengan lagu lagu pilihannya, but that’s so fun.

Senin, 4 April akhirnya sebagian fasilitator dan manajer lapangan mulai meluncur ke lokasi masing-masing, hanya tersisa beberapa orang saja yang juga akan berangkat pada hari selanjutnya. Saya sendiri memilih untuk berangkat ke bandara pada pukul 12.00 wib meskipun pesawat saya pukul 15.00, tidak lain tidak bukan agar terhindar macetnya jakarta.

Saat pertama kali landing di Bumi Raflesia

Alhamdulillah ada rejeki dalam perjalanan ke bengkulu untuk pertama kalinya. Di bandara bertemu sepasang suami istri dengan tujuan sama ke bengkulu, setelah berbincang beberapa saat mereka mengatakan bahwa mereka kenal dekat dengan beberapa staf/kepala instansi/dinas yang akan saya kunjungi untuk kordinasi awal di bengkulu. Keberuntungan kedua, awalnya saya berencana mengandalkan jasa taxi untuk mengantarkan saya, namun sepasang suami istri ini dengan baik hatinya menawarkan untuk ikut dengan mobil mereka dan akan mengantarkan saya ke tujuan. How lucky I am.

Cuma itu? Tidak, ada lagi. Keberuntungan ketiga ada teman baik hati yang menawarkan saya untuk menginap dirumahnya saat di kota bengkulu. Disini saya merasa betapa beruntungnya punya banyak teman dimana mana. Mengingat sebagai orang yang bekerja diluar daerah sendiri alias perantau, hal-hal seperti itu alias hal-hal yang bersifat gratis, akan sangat dinanti-nanti,heheh. Thanks God.

Suasana sore yang tenang serta tulisan di plang “Selamat Datang di Kota Bengkulu, Kota Semarak” menyambut dengan manisnya kehadiran seorang wanita lain pulau ini,hehehe. Sepanjang jalan menuju rumah teman saya asik menikmati sore menjelang magrib sambil berbincang dengan sepasang suami istri tadi dan seorang anaknya yang menjemput.

Bagi saya kota bengkulu ini memiliki ciri khas tersendiri juga dari kota – kota lain di Indonesia, tenang dan nyaman. Dan dari sinilah saya akan melanjutkan perjalanan ke pulau enggano nanti. Malam pertama di bengkulu saya gunakan untuk menikmati sepiring nasi ditambah dengan ikan nila goreng, tempe tahu dan sambelnya, dan ditutup dengan segelas es jeruk, alhamdulillah nikmat sekali.

Hari kedua rencana akan saya gunakan untuk memulai kordinasi awal dengan beberapa instansi/dinas yang ada di kota bengkulu sekaligus sebagai salam saya yang telah memasuki wilayah provinsi bengkulu ini. Dan selanjutnya akan menyesuaikan dengan jadwal kapal yang akan membawa saya ke pulau enggano nanti. Semoga selalu dalam lindunganNYA, dan semoga saja keberuntungan selalu menyertai, Amin :D





Minggu, 03 April 2016

Mix and Match Pelatihan Fasilitator Masyarakat PPKT 2016

Kenapa mix and match? Karena bagi saya dalam mix and match it means kita mempertemukan, bertemu, berkumpul, berselaras, berkolaborasi untuk satu tujuan yang sama. Bukan hanya soal fashion atau passion, tapi lebih kepada kemampuan kita bisa memanfaatkan segala sesuatu yang bisa di mix and match sampai akhirnya menghasilkan apa yang diharapkan.

Senin, 28 Maret kemarin saya bertolak dari bandara Haluoleo menuju Soekarno Hatta setelah mendapatkan undangan untuk Pelatihan Fasilitator Masyarakat PPKT dan juga setelah kode booking berhasil dikirim via whatsapp. Setelah sempat transit sebentar di Sultan Hasanuddin, akhirnya ketika adzan magrib berkumandang manis untuk wilayah ibukota dan sekitarnya,kuda besi yang saya tumpangi pun mendarat dengan anggunnya.

Setelah kegiatan Studi Lapangan di Teluk Naga, Tangerang
Kegiatan Pelatihan Fasilitator ini sendiri tidak lain bertujuan untuk membekali kami yang beruntung bisa terpilih dari ribuan pendaftar untuk sama sama belajar dan mengetahui tentang apa apa saja yang akan dan bisa kita lakukan di lokasi penempatan nanti. Program yang melibatkan beberapa pihak seperti Kementrian kelautan dan perikanan, GIZ, dan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia.  Saya sendiri mendapat wilayah penempatan di salah satu pulau kecil terluar yang ada di Provinsi Bengkulu, yaitu Pulau Enggano.

Kegiatan ini berlangsung selama satu minggu, disalah satu hotel di Ibukota. Kami berjumlah 18 orang untuk fasilitator dan 15 orang untuk manajer lapangan. Meskipun berasal dari daerah yang berbeda-beda, usia berbeda, latar belakang pendidikan yang juga berbeda, namun hal itu tidak menjadi halangan bagi kami untuk bisa saling mengenal, sharing, dan bercanda layaknya orang yang sudah lama saling kenal.

Pemaparan salah satu pemateri
Rute kami setiap hari hanya berkutat di ballroom hotel, lantai 6, lantai 7, dan lantai letak kamar kami masing-masing. Namun secara tidak langsung juga dari satu minggu yang dilalui dengan kegiatan yang sama dan bertemu orang – orang yang itu itu saja, akhirnya terjalin sebuah kedekatan yang cukup baik. Jam 8 sarapan pagi, 08.30 masuk ruangan, ice breaking dari pak sony dan pak aw yang super kece, terima materi, siang ishoma, masuk materi lagi, break 15 menit untuk snack lanjut lagi then terus berulang sampai hari terakhir. 

Bersama Pak Tio, Dirjen Pengelolaan ruang laut
But tidak bisa dipungkiri juga banyak sekali hal hal menarik, lucu, dan berkesan selama pelatihan berlangsung :D dimulai dari adegan curi curi waktu pada saat materi berlangsung untuk sekedar ke toilet padahal gak ingin buang air kecil, adegan nyobain kolam renang hotel yang lagi ada bule juga lagi renang , adegan ngerumpi di salah satu kamar pas malam, bolak balik lift gara-gara kunci kamar gak berfungsi, melipat kertas menjadi burung pas materi berlangsung biar gak ngantuk, cara beberapa pemateri membawakan materinya yang bikin kami tertawa lepas dan hal-hal lainnya yang mungkin kalau ditulis bisa mengalahkan serial Uttaran :D

Finally, sore ini saya sedang menikmati saat-saat sebelum terjun ke pulau, sambil berbenah untuk hal-hal yang perlu dipersiapkan. Omongan raditya dika dan uus di tv ternyata sukses memutar otomatis hal hal dari kegiatan seminggu ini yang terekam di otak, dan jaripun menuliskannya dengan santai.  

Kamis, 10 Maret 2016

Keinginan sederhana

“Karena Indonesia bukan cuma Bali”

Tugu KM 0 Sabang, Aceh 
Kalian mungkin pernah mendengar ucapan sekilas seperti itu, entah yang diucapkan orang indonesia langsung ataupun juga turis asing yang sudah mengenal Indonesia dan tahu kalau memang Indonesia bukan cuma Bali.
Well,,,saya tidak ingin bicara soal Indonesia secara detail, bukan juga bicara soal Bali. Judul diatas memang sengaja saya pilih untuk mewakili isi kepala saya. Isi kepala seperti apa?

Entah kenapa sejak berstatus sebagai mahasiswa, saya selalu tertarik dengan yang namanya menyaksikan keindahan kota – kota lain, baik itu sejarahnya, wisatanya, ataupun juga hal – hal lain yang menyangkut kota tersebut. yang ada dalam difikiran saya, mungkin akan sangat menyenangkan jika bisa merasakan berkunjung ataupun tinggal di kota – kota lain tersebut selain kota kelahiran saya di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Merasa tertantang dengan imajinasi sendiri, saya pun bertekad untuk bisa keluar dari kota kelahiran saya untuk bisa merasakan kota maupun daerah lain selepas kuliah nanti. Entah untuk berkerja disana ataupun sekedar berkunjung memuaskan rasa penasaran. Namun sempat terfikir rasanya itu masih lama sekali mengingat saya masih di semester – semester awal kuliah.

Saya pun memutuskan untuk mengikuti beberapa organisasi yang ada di kampus dan juga luar kampus. Berharap saya mendapat kesempatan untuk jalan – jalan mengunjungi kota lain atau pulau lain selain pulau Sulawesi. Lucu mungkin kedengarannya. Tapi bagi saya, tidak ada yang lucu kalau soal memperjuangkan sebuah keinginan. Keinginan sederhana dari mahasiswa sederhana waktu itu hahah.

Car Free Day Dago, Bandung

Pucuk di cinta ulam pun tiba, lewat sebuah kegiatan scientific paper competition akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di bagian lain Indonesia selain Sulawesi. Saya pun mencoba menikmati hal hal apa saja yang sekiranya bisa dijadikan pengalaman ataupun sekedar oleh oleh cerita untuk rekan maupun keluarga dirumah.

Well, tidak berhenti sampai disitu, at least selama kuliah saya beruntung sempat beberapa kali mendapatkan kesempatan untuk menikmati sisi lain Indonesia walaupun berlatar belakang perjalanan akademi (organisasi/kampus). Sampai tiba saatnya mengurus skripsi dan lain lain, saya kembali harus fokus terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan lain di waktu yang lain lagi.

Mei 2013 ketika rektor selesai memindahkan tali di toga yang saya kenakan, keinginan lain saya kembali muncul. Saya ingin bekerja di kota lain. Sejak saat itu saya menjadi penghuni tetap sebuah tempat layanan wifi. Bukan bekerja, melainkan aktif bergentayangan di dunia maya mencari tahu lowongan kerja yang ada diluar sulawesi tenggara. Dan dayung kembali bersambut, alhamdulillah saya terpilih untuk mengikuti sebuah program pemerintah di ujung barat Indonesia selama 2 tahun.

Finally tercapai juga keinginan untuk bisa hidup di kota lain. Dengan berbagai pertimbangan pribadi dan juga dari keluarga akhirnya saya berangkat dan menikmati hidup disana sampai agustus 2015. Kadang sering terfikirkan juga, apa yang sebenarnya saya cari. Tapi selalu dengan tegas saya katakan pada diri sendiri bahwa saya mencoba menikmati hidup saya dari apa yang saya senangi, dan yang saya merasa nyaman didalamnya.

Berkunjung dari satu daerah ke daerah lain, bertemu orang – orang baru, berbincang dengan orang – orang di kedai kopi atau di bus, bermain dengan anak – anak desa, membantu ibu – ibu membuat anyaman, sharing pengalaman dengan seorang anak muda saat pesawat delay, dan berburu buah pinang yang jatuh dari pohon. hal hal sederhana seperti itu.

Dan di awal tahun 2016 ini saya kembali merasa beruntung bisa berkesempatan bertugas lagi di salah satu kota di pulau sumatra. Lagi lagi pertanyaan lain muncul dari teman saya “kenapa kamu suka bepergian yang jauh? Tidak betah kah di kendari?” saya hanya bisa menjawab, saya ingin mendapatkan pengalaman lain yang lebih luar biasa kawan, heheh.



Minggu, 26 Juli 2015

PSP3 Chapter 23 Aceh

Alhamdulillah kenyang mengisi perut, dan tiba-tiba muncul keinginan untuk berbagi sedikit kisah sebagai PSP3 angkatan XXIII, sebulan menjelang berakhirnya masa tugas di Aceh. Ya, saya lebih suka menyebutnya masa tugas dari pada masa kontrak biar terdengar lebih terasa pengabdiannya *Ciee.  Entah dorongan dari mana, tapi slide demi slide foto yang muncul di wallpaper laptop saya membuat memori hampir dua tahun yang lalu terputar kembali secara otomatis. Iya benar, foto kami PSP3 angkatan XXIII. Dan mungkin ini juga sekaligus menjawab beberapa permintaan dari rekan – rekan yang bermunculan mampir ke blog dan akun sosmed saya lainnya untuk mencari tahu tentang PSP3.

Kalau kata pepatah, ‘Tak Kenal Maka Tak Sayang’ nah supaya bisa saling sayang *Apacoba?, saya ingin kenalin teman-teman seperjuangan saya dulu selama bertugas di Aceh. Kami awalnya berangkat dari tempat pembekalan di Jakarta berjumlah 21 orang untuk ditugaskan di Aceh. 21 orang ini semuanya berasal dari daerah yang berbeda beda, dan tentunya dengan latar belakang pendidikan yang berbeda juga. Namun mungkin karena seleksi alam, beberapa diantaranya akhirnya mundur teratur. Tapi itu sama sekali tidak mengurangi rasa pertemanan kami meskipun tidak bisa berkumpul selengkap dulu.

Pertama dari Maluku Utara ada 6 orang, Suratni, Gamaria, Almukarram, Sadam, Ikhsan dan Supriyadi. Geser sedikit ke Sulawesi Barat ada 3 orang, Kumalasari, Martina, dan Indrawan. Geser sedikit lagi ke Sulawesi tenggara juga 3 orang yaitu Erick, Marjanuddin, dan saya sendiri. Berpindah ke Kalimantan Barat ada 2 orang Alizulazis dan Dian setyawan. Lanjut ke Jawa Barat ada 3 orang, Galih, Walimah dan Ferona. Terakhir dari Lampung ada 4 orang, Ika, Winda, Arisa, dan Fachri.

Soal tugas kami? Tugas kami sebernarnya tidak sulit, tapi tidak bisa juga dibilang mudah. Sama seperti singkatan PSP3, Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan. Jadi keberadaan kami di Aceh khususnya di desa penempatan masing-masing yaitu untuk menggerakkan alur pembangunan di desa khususnya dari sektor ekonominya bekerjasama dengan pemuda-pemuda pada khususnya melalui kegiatan usaha ekonomi produktif. Kenapa ekonomi produktif, karena Kementrian Pemuda dan Olahraga melalui kami ingin agar masyarakat di desa tidak sepenuhnya bergantung dari hasil pertanian atau perkebunan saja. Selain itu ingin agar pemuda-pemuda berpotensi yang ada di desa bisa mengaplikasikan ilmunya untuk mengembangkan desanya sendiri.

Beruntungnya saya karena itu semua bisa saya lalui dengan baik bersama teman-teman yang luar biasa. Meskipun dalam satu desa kami hanya 2 orang, tapi hampir setiap ada kesempatan tidak pernah kami lewatkan untuk saling mengunjungi dan berkumpul. Bukan hanya sekedar berkumpul, tapi moment kumpul itu kami manfaatkan juga untuk bisa saling berbagi suka duka di desa tugas masing-masing. Atau ketika weekend, dan muncul ajakan dari salah satu dari kami untuk melancong ke kabupaten lain yang ada di Aceh, semuanya seperti serentak untuk pergi.

Hal lainnya lagi ketika ada salah satu desa tugas PSP3 yang mengadakan Kenduri, dan kami pun di undang, seolah tak ingin kehilangan kesempatan makan gratis, semua pun langsung merapat ke lokasi kenduri. Jangan salah undangan makan gratis itu bagi kami seolah seperti rejeki nomplok, hitung-hitung berhemat menunggu biaya hidup. Apalagi ketika ada undangan kegiatan dari Dispora Provinsi, senangnya bukan main :D Karena apa, karena bisa tidur dan makan di hotel gratis, hahhaha agak norak mungkin tapi disitulah seninya. Hal-hal seperti itu yang kadang bikin kami merasa beruntung ada di PSP3 khususnya di Aceh.

Tapi tidak bisa dipungkiri juga, pilihan kami untuk hidup dan bekerja jauh dari sanak saudara bukan tanpa hambatan. Aceh yang terkenal dengan syariat islamnya membuat saya pernah di usir keluar dari mesjid karena tidak memakai rok tapi celana panjang. Ada juga teman cowok yang di suruh keluar mesjid karena memakai celana pendek. Teman yang terpaksa tidur di balai desa karena anak kepala desa dirumah cewek semua. Belum lagi salah satu teman kami yang terpaksa pindah karena kepala desanya yang agak “ttiiittttttt” (disensor). Dan hambatan hambatan lainnya yang mungkin kalau disebut satu persatu akan mengalahkan sinetron cinta fitri season 7.

Lantas kenapa kami PSP3 yang tersisa bisa bertahan sampai saat ini? Pertama, dari awal mendaftar kami sudah membuat surat pernyataan bersedia ditempatkan di provinsi lain. Bagi kami pernyataan itu sudah seperti janji, jadi harus ditepati. Kedua, kami merasa ketika sudah menandatangani kontrak kerja berarti kami sudah sepakat dengan tanggung jawab yang harus kami pikul. Itu kenapa ketika terlintas di fikiran kami ingin berhenti, kami kembali ingat kalau kami masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Dan ketiga, karena kami Mencintai pekerjaan ini.

Ya, apapun pekerjaan itu kalau kita cinta dengan pekerjaan itu, kita enjoy di dalamnya, yakin dan percaya pasti bisa kita lewati dengan baik hingga masanya selesai. Itulah yang saya pegang hingga bisa bertahan sampai sebulan menjelang berakhirnya masa tugas di Aceh. Dan semoga PSP3 selanjutnya bisa lebih baik lagi dari angkatan kami. Salam PSP3.



Jumat, 17 Juli 2015

Kenapa Perempuan Harus Mandiri?


Terlahir sebagai makhluk tuhan yang paling indah, namun dengan segala macam gelarnya yang kata orang makhluk paling sensitif, lemah lembut, dan ingin dimengerti, perempuan tidak hanya harus memikul beban sebagaimana layaknya kodratnya, tetapi lebih ke sejauh mana perempuan itu mampu berdiri sendiri tanpa harus melupakan kodratnya sebagai perempuan. Apakah benar demikian? Sebagian mungkin akan menjawab ya, sebagian lagi mungkin akan mengerutkan dahi terlebih dahulu sambil berfikir benar atau tidaknya.

Apakah perempuan itu harus mandiri? Seperti apa bentuk mandiri yang cocok untuk perempuan? Dan seperti apa definisi mandiri bagi setiap perempuan?

Saya sendiri kadang masih sering dibuat bingung dengan definisi mandiri itu sendiri. Apakah mandiri itu berarti mampu mengerjakan segala sesuatunya sendiri? Seperti kata seorang teman saya yang dengan mudahnya mengatakan saya belum bisa dibilang mandiri karena saya belum bisa berenang. Atau mandiri itu berarti hidup sendiri tanpa bergantung dengan orang tua lagi? Atau mandiri itu punya penghasilan sendiri, rumah atau kendaraan pribadi sendiri?

Lain orang pasti akan lain juga penafsirannya tentang mandiri. Namun bagi saya pribadi mandiri itu bisa dibilang saat kita mampu keluar dari zona nyaman, bergelut dengan berbagai macam kesibukan tanpa merepotkan orang lain. Dalam hal ini keadaan dimana kita bisa membawa diri sendiri namun tetap mengingat batas baik buruknya. Itu definisi mandiri menurut saya.

Dan kalau ditanya kenapa perempuan harus mandiri? Sebenarnya tidak ada aturan khusus yang mengharuskan perempuan itu harus mandiri. Namun dengan mandiri, seorang perempuan bisa lebih mudah membawa dan menempatkan dirinya dimanapun itu, dan dengan sendirinya mampu menyelesaikan permasalahan yang muncul di depannya.

Selain itu, perempuan yang mandiri itu lebih bisa menghargai setiap usaha yang dilakukannya, karena mereka tahu tidak mudah untuk mendapatkannya. Fokus utama bagi seorang perempuan yang mandiri adalah bertindak semaksimal mungkin, dan bersedih seminimal mungkin. Karena kenapa? Karena bagi mereka, waktu yang dimiliki itu adalah untuk sesuatu yang benar-benar sudah diperhitungkan baik buruknya.

Yang paling penting adalah dengan mandiri, seorang perempuan bisa menjadi apa saja. Apa saja gimana? Ya apa saja. Apa saja yang bisa membuatnya terus aktif, membahagiakan orang-orang disekitarnya, dan tentu membahagiakan dirinya sendiri.