Minggu, 26 Juli 2015

PSP3 Chapter 23 Aceh

Alhamdulillah kenyang mengisi perut, dan tiba-tiba muncul keinginan untuk berbagi sedikit kisah sebagai PSP3 angkatan XXIII, sebulan menjelang berakhirnya masa tugas di Aceh. Ya, saya lebih suka menyebutnya masa tugas dari pada masa kontrak biar terdengar lebih terasa pengabdiannya *Ciee.  Entah dorongan dari mana, tapi slide demi slide foto yang muncul di wallpaper laptop saya membuat memori hampir dua tahun yang lalu terputar kembali secara otomatis. Iya benar, foto kami PSP3 angkatan XXIII. Dan mungkin ini juga sekaligus menjawab beberapa permintaan dari rekan – rekan yang bermunculan mampir ke blog dan akun sosmed saya lainnya untuk mencari tahu tentang PSP3.

Kalau kata pepatah, ‘Tak Kenal Maka Tak Sayang’ nah supaya bisa saling sayang *Apacoba?, saya ingin kenalin teman-teman seperjuangan saya dulu selama bertugas di Aceh. Kami awalnya berangkat dari tempat pembekalan di Jakarta berjumlah 21 orang untuk ditugaskan di Aceh. 21 orang ini semuanya berasal dari daerah yang berbeda beda, dan tentunya dengan latar belakang pendidikan yang berbeda juga. Namun mungkin karena seleksi alam, beberapa diantaranya akhirnya mundur teratur. Tapi itu sama sekali tidak mengurangi rasa pertemanan kami meskipun tidak bisa berkumpul selengkap dulu.

Pertama dari Maluku Utara ada 6 orang, Suratni, Gamaria, Almukarram, Sadam, Ikhsan dan Supriyadi. Geser sedikit ke Sulawesi Barat ada 3 orang, Kumalasari, Martina, dan Indrawan. Geser sedikit lagi ke Sulawesi tenggara juga 3 orang yaitu Erick, Marjanuddin, dan saya sendiri. Berpindah ke Kalimantan Barat ada 2 orang Alizulazis dan Dian setyawan. Lanjut ke Jawa Barat ada 3 orang, Galih, Walimah dan Ferona. Terakhir dari Lampung ada 4 orang, Ika, Winda, Arisa, dan Fachri.

Soal tugas kami? Tugas kami sebernarnya tidak sulit, tapi tidak bisa juga dibilang mudah. Sama seperti singkatan PSP3, Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan. Jadi keberadaan kami di Aceh khususnya di desa penempatan masing-masing yaitu untuk menggerakkan alur pembangunan di desa khususnya dari sektor ekonominya bekerjasama dengan pemuda-pemuda pada khususnya melalui kegiatan usaha ekonomi produktif. Kenapa ekonomi produktif, karena Kementrian Pemuda dan Olahraga melalui kami ingin agar masyarakat di desa tidak sepenuhnya bergantung dari hasil pertanian atau perkebunan saja. Selain itu ingin agar pemuda-pemuda berpotensi yang ada di desa bisa mengaplikasikan ilmunya untuk mengembangkan desanya sendiri.

Beruntungnya saya karena itu semua bisa saya lalui dengan baik bersama teman-teman yang luar biasa. Meskipun dalam satu desa kami hanya 2 orang, tapi hampir setiap ada kesempatan tidak pernah kami lewatkan untuk saling mengunjungi dan berkumpul. Bukan hanya sekedar berkumpul, tapi moment kumpul itu kami manfaatkan juga untuk bisa saling berbagi suka duka di desa tugas masing-masing. Atau ketika weekend, dan muncul ajakan dari salah satu dari kami untuk melancong ke kabupaten lain yang ada di Aceh, semuanya seperti serentak untuk pergi.

Hal lainnya lagi ketika ada salah satu desa tugas PSP3 yang mengadakan Kenduri, dan kami pun di undang, seolah tak ingin kehilangan kesempatan makan gratis, semua pun langsung merapat ke lokasi kenduri. Jangan salah undangan makan gratis itu bagi kami seolah seperti rejeki nomplok, hitung-hitung berhemat menunggu biaya hidup. Apalagi ketika ada undangan kegiatan dari Dispora Provinsi, senangnya bukan main :D Karena apa, karena bisa tidur dan makan di hotel gratis, hahhaha agak norak mungkin tapi disitulah seninya. Hal-hal seperti itu yang kadang bikin kami merasa beruntung ada di PSP3 khususnya di Aceh.

Tapi tidak bisa dipungkiri juga, pilihan kami untuk hidup dan bekerja jauh dari sanak saudara bukan tanpa hambatan. Aceh yang terkenal dengan syariat islamnya membuat saya pernah di usir keluar dari mesjid karena tidak memakai rok tapi celana panjang. Ada juga teman cowok yang di suruh keluar mesjid karena memakai celana pendek. Teman yang terpaksa tidur di balai desa karena anak kepala desa dirumah cewek semua. Belum lagi salah satu teman kami yang terpaksa pindah karena kepala desanya yang agak “ttiiittttttt” (disensor). Dan hambatan hambatan lainnya yang mungkin kalau disebut satu persatu akan mengalahkan sinetron cinta fitri season 7.

Lantas kenapa kami PSP3 yang tersisa bisa bertahan sampai saat ini? Pertama, dari awal mendaftar kami sudah membuat surat pernyataan bersedia ditempatkan di provinsi lain. Bagi kami pernyataan itu sudah seperti janji, jadi harus ditepati. Kedua, kami merasa ketika sudah menandatangani kontrak kerja berarti kami sudah sepakat dengan tanggung jawab yang harus kami pikul. Itu kenapa ketika terlintas di fikiran kami ingin berhenti, kami kembali ingat kalau kami masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Dan ketiga, karena kami Mencintai pekerjaan ini.

Ya, apapun pekerjaan itu kalau kita cinta dengan pekerjaan itu, kita enjoy di dalamnya, yakin dan percaya pasti bisa kita lewati dengan baik hingga masanya selesai. Itulah yang saya pegang hingga bisa bertahan sampai sebulan menjelang berakhirnya masa tugas di Aceh. Dan semoga PSP3 selanjutnya bisa lebih baik lagi dari angkatan kami. Salam PSP3.



Jumat, 17 Juli 2015

Kenapa Perempuan Harus Mandiri?


Terlahir sebagai makhluk tuhan yang paling indah, namun dengan segala macam gelarnya yang kata orang makhluk paling sensitif, lemah lembut, dan ingin dimengerti, perempuan tidak hanya harus memikul beban sebagaimana layaknya kodratnya, tetapi lebih ke sejauh mana perempuan itu mampu berdiri sendiri tanpa harus melupakan kodratnya sebagai perempuan. Apakah benar demikian? Sebagian mungkin akan menjawab ya, sebagian lagi mungkin akan mengerutkan dahi terlebih dahulu sambil berfikir benar atau tidaknya.

Apakah perempuan itu harus mandiri? Seperti apa bentuk mandiri yang cocok untuk perempuan? Dan seperti apa definisi mandiri bagi setiap perempuan?

Saya sendiri kadang masih sering dibuat bingung dengan definisi mandiri itu sendiri. Apakah mandiri itu berarti mampu mengerjakan segala sesuatunya sendiri? Seperti kata seorang teman saya yang dengan mudahnya mengatakan saya belum bisa dibilang mandiri karena saya belum bisa berenang. Atau mandiri itu berarti hidup sendiri tanpa bergantung dengan orang tua lagi? Atau mandiri itu punya penghasilan sendiri, rumah atau kendaraan pribadi sendiri?

Lain orang pasti akan lain juga penafsirannya tentang mandiri. Namun bagi saya pribadi mandiri itu bisa dibilang saat kita mampu keluar dari zona nyaman, bergelut dengan berbagai macam kesibukan tanpa merepotkan orang lain. Dalam hal ini keadaan dimana kita bisa membawa diri sendiri namun tetap mengingat batas baik buruknya. Itu definisi mandiri menurut saya.

Dan kalau ditanya kenapa perempuan harus mandiri? Sebenarnya tidak ada aturan khusus yang mengharuskan perempuan itu harus mandiri. Namun dengan mandiri, seorang perempuan bisa lebih mudah membawa dan menempatkan dirinya dimanapun itu, dan dengan sendirinya mampu menyelesaikan permasalahan yang muncul di depannya.

Selain itu, perempuan yang mandiri itu lebih bisa menghargai setiap usaha yang dilakukannya, karena mereka tahu tidak mudah untuk mendapatkannya. Fokus utama bagi seorang perempuan yang mandiri adalah bertindak semaksimal mungkin, dan bersedih seminimal mungkin. Karena kenapa? Karena bagi mereka, waktu yang dimiliki itu adalah untuk sesuatu yang benar-benar sudah diperhitungkan baik buruknya.

Yang paling penting adalah dengan mandiri, seorang perempuan bisa menjadi apa saja. Apa saja gimana? Ya apa saja. Apa saja yang bisa membuatnya terus aktif, membahagiakan orang-orang disekitarnya, dan tentu membahagiakan dirinya sendiri.