Alhamdulillah kenyang
mengisi perut, dan tiba-tiba muncul keinginan untuk berbagi sedikit kisah sebagai
PSP3 angkatan XXIII, sebulan menjelang berakhirnya masa tugas di Aceh. Ya, saya
lebih suka menyebutnya masa tugas dari pada masa kontrak biar terdengar lebih
terasa pengabdiannya *Ciee. Entah dorongan
dari mana, tapi slide demi slide foto yang muncul di wallpaper laptop saya
membuat memori hampir dua tahun yang lalu terputar kembali secara otomatis. Iya
benar, foto kami PSP3 angkatan XXIII. Dan mungkin ini juga sekaligus menjawab
beberapa permintaan dari rekan – rekan yang bermunculan mampir ke blog dan akun
sosmed saya lainnya untuk mencari tahu tentang PSP3.
Kalau kata pepatah, ‘Tak
Kenal Maka Tak Sayang’ nah supaya bisa saling sayang *Apacoba?, saya ingin
kenalin teman-teman seperjuangan saya dulu selama bertugas di Aceh. Kami awalnya
berangkat dari tempat pembekalan di Jakarta berjumlah 21 orang untuk ditugaskan
di Aceh. 21 orang ini semuanya berasal dari daerah yang berbeda beda, dan
tentunya dengan latar belakang pendidikan yang berbeda juga. Namun mungkin
karena seleksi alam, beberapa diantaranya akhirnya mundur teratur. Tapi itu
sama sekali tidak mengurangi rasa pertemanan kami meskipun tidak bisa berkumpul
selengkap dulu.
Pertama dari Maluku
Utara ada 6 orang, Suratni, Gamaria, Almukarram, Sadam, Ikhsan dan Supriyadi. Geser
sedikit ke Sulawesi Barat ada 3 orang, Kumalasari, Martina, dan Indrawan. Geser
sedikit lagi ke Sulawesi tenggara juga 3 orang yaitu Erick, Marjanuddin, dan
saya sendiri. Berpindah ke Kalimantan Barat ada 2 orang Alizulazis dan Dian
setyawan. Lanjut ke Jawa Barat ada 3 orang, Galih, Walimah dan Ferona. Terakhir
dari Lampung ada 4 orang, Ika, Winda, Arisa, dan Fachri.
Soal tugas kami? Tugas
kami sebernarnya tidak sulit, tapi tidak bisa juga dibilang mudah. Sama seperti
singkatan PSP3, Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan. Jadi keberadaan
kami di Aceh khususnya di desa penempatan masing-masing yaitu untuk
menggerakkan alur pembangunan di desa khususnya dari sektor ekonominya
bekerjasama dengan pemuda-pemuda pada khususnya melalui kegiatan usaha ekonomi
produktif. Kenapa ekonomi produktif, karena Kementrian Pemuda dan Olahraga
melalui kami ingin agar masyarakat di desa tidak sepenuhnya bergantung dari
hasil pertanian atau perkebunan saja. Selain itu ingin agar pemuda-pemuda
berpotensi yang ada di desa bisa mengaplikasikan ilmunya untuk mengembangkan
desanya sendiri.
Beruntungnya saya
karena itu semua bisa saya lalui dengan baik bersama teman-teman yang luar
biasa. Meskipun dalam satu desa kami hanya 2 orang, tapi hampir setiap ada
kesempatan tidak pernah kami lewatkan untuk saling mengunjungi dan berkumpul. Bukan
hanya sekedar berkumpul, tapi moment kumpul itu kami manfaatkan juga untuk bisa
saling berbagi suka duka di desa tugas masing-masing. Atau ketika weekend, dan
muncul ajakan dari salah satu dari kami untuk melancong ke kabupaten lain yang
ada di Aceh, semuanya seperti serentak untuk pergi.
Hal lainnya lagi
ketika ada salah satu desa tugas PSP3 yang mengadakan Kenduri, dan kami pun di
undang, seolah tak ingin kehilangan kesempatan makan gratis, semua pun langsung
merapat ke lokasi kenduri. Jangan salah undangan makan gratis itu bagi kami
seolah seperti rejeki nomplok, hitung-hitung berhemat menunggu biaya hidup. Apalagi
ketika ada undangan kegiatan dari Dispora Provinsi, senangnya bukan main :D Karena
apa, karena bisa tidur dan makan di hotel gratis, hahhaha agak norak mungkin
tapi disitulah seninya. Hal-hal seperti itu yang kadang bikin kami merasa
beruntung ada di PSP3 khususnya di Aceh.
Tapi tidak bisa
dipungkiri juga, pilihan kami untuk hidup dan bekerja jauh dari sanak saudara
bukan tanpa hambatan. Aceh yang terkenal dengan syariat islamnya membuat saya
pernah di usir keluar dari mesjid karena tidak memakai rok tapi celana panjang.
Ada juga teman cowok yang di suruh keluar mesjid karena memakai celana pendek. Teman
yang terpaksa tidur di balai desa karena anak kepala desa dirumah cewek semua. Belum
lagi salah satu teman kami yang terpaksa pindah karena kepala desanya yang agak
“ttiiittttttt” (disensor). Dan hambatan hambatan lainnya yang mungkin kalau
disebut satu persatu akan mengalahkan sinetron cinta fitri season 7.
Lantas kenapa kami PSP3
yang tersisa bisa bertahan sampai saat ini? Pertama, dari awal mendaftar kami
sudah membuat surat pernyataan bersedia ditempatkan di provinsi lain. Bagi kami
pernyataan itu sudah seperti janji, jadi harus ditepati. Kedua, kami merasa
ketika sudah menandatangani kontrak kerja berarti kami sudah sepakat dengan
tanggung jawab yang harus kami pikul. Itu kenapa ketika terlintas di fikiran
kami ingin berhenti, kami kembali ingat kalau kami masih ada tanggung jawab
yang harus diselesaikan. Dan ketiga, karena kami Mencintai pekerjaan ini.
Ya, apapun pekerjaan
itu kalau kita cinta dengan pekerjaan itu, kita enjoy di dalamnya, yakin dan
percaya pasti bisa kita lewati dengan baik hingga masanya selesai. Itulah yang
saya pegang hingga bisa bertahan sampai sebulan menjelang berakhirnya masa
tugas di Aceh. Dan semoga PSP3 selanjutnya bisa lebih baik lagi dari angkatan
kami. Salam PSP3.