Senin, 15 Juni 2015

Tradisi Meugang di Aceh

Bagi masyarakat Aceh, bulan ramadhan merupakan hal yang harus disambut dengan suka cita. Hal ini bisa dibuktikan dengan salah satu tradisi yang sudah turun temurun selalu dilaksanakan setiap menjelang bulan ramadhan. Tradisi yang belum pernah saya jumpai sepanjang pengalaman saya menyambut ramadhan dibeberapa kota lain. Termaksud tradisi unik menurut saya, karena meugang bagi masyarakat aceh adalah identik dengan makan daging. Selain itu dilaksanakan tiga kali dalam setahun. Tidak hanya menjelang bulan ramadhan, tapi juga menjelang idul fitri dan idul adha.




Biasanya seminggu sebelum ramadhan, masyarakat mulai disibukkan dengan berbagai macam persiapan yang akan mereka lakukan pada hari H Meugang itu. Meugang sendiri dilakukan sehari sebelum ramadhan pertama. Dan itu akan menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu bukan hanya orang dewasa, bahkan sampai ke remaja dan anak-anak. Selain itu Meugang juga menjadi hal yang tidak boleh terlewatkan bagi masyarakat Aceh yang mungkin kebetulan sedang berada diluar kota atau merantau. Mereka yang berada diluar Aceh, biasanya akan langsung bergegas pulang begitu mendekati hari Meugang.

Menariknya disini karena Meugang merupakan tradisi dimana berkumpulnya seluruh anggota keluarga untuk menikmati acara makan daging bersama. Menariknya lagi, dalam tradisi ini semua elemen masyarakat bisa menikmati daging meugang tersebut, tanpa ada perbedaan sedikitpun. Saya pun berhasil dibikin terharu dengan suasana kebersamaan dan kekeluargaan diantara mereka ketika Meugang yang begitu akrab. Paling tidak membuat saya tidak merasa jauh dari keluarga, walaupun sebenarnya jauh. Dan tahun ini menjadi kali kedua saya akan mengikuti tradisi Meugang di Aceh. Hal-hal yang unik dari Meugang itu sendiri pun masih tetap sama, seperti :

    1.       Membuat Lemang dan Tape

Lemang dan Tape merupakan dua makanan wajib yang harus ada ketika hari Meugang. Meskipun sama-sama terbuat dari beras ketan, tapi cari mengolahnya cukup berbeda. Saya pun paling semangat rasanya jika sudah acara membuat Lemang dan Tape. Bukan karena semangat membuat, tetapi semangat untuk segera menikmati hasilnya :D Lemang sendiri merupakan beras ketan yang sudah dicuci bersih, dimasukkan kedalam bambu ukuran sedang berukuran panjang setengah meter yang sebelumnya sudah dilapisi dengan daun pisang didalamnya, kemudian ditambahkan santan dan siap untuk dibakar. Sedangkan tape, beras ketan yang sudah dimasak setengah matang terlebih dahulu, kemudian dilumuri ragi dan dibungkus kecil kecil dengan daun pisang dan setelahnya didiamkan selama dua atau tiga hari. Dua makanan inilah yang sangat dinanti-nanti ketika hari H Meugang. Dan biasanya disetiap rumah pasti menyiapkan ini. Lemang dipotong-potong setelah dikeluarkan dari bambu, kemudian siap disantap dengan Tape. Perpaduan rasa manis dan gurih dilidah, dijamin bikin ketagihan.

     2.       Tak Lengkap tanpa Gulai Daging

Biasanya dua atau sehari sebelum hari Meugang, tidak hanya dipasar, dipinggir jalan disepanjang kota Meulaboh maupun kota lainnya yang ada di Aceh mulai ramai dengan penjual daging. Ya, daging ciri khas yang harus ada ketika Meugang. Pernah suatu hari ketika saya bertanya ke ibu kepala desa tempat saya tinggal, “Bu,kenapa harus beli daging untuk Meugang?” si ibu dengan santai menjawab “Memang sudah seperti itu sejak dulu, tak lengkap rasanya kalau tak memasak Gulai Daging pada saat Meugang.” Ternyata seperti itu. Jadi tidak hanya Lemang dan Tape, kita juga akan disuguhkan dengan Gulai Daging yang lezat ketika berkunjung kerumah masyarakat Aceh ketika hari Meugang. Terlebih lagi dinikmati bersama-sama, itulah yang membuat yang merantau akan buru-buru pulang ke Aceh.

     3.       Meugang = Baju Baru

Saya pernah dibikin terheran-heran, ketika dua hari menjelang hari Meugang, hampir setiap orang yang saya temui bertanya “Ani udah beli baju baru belum?” atau seperti ini “Ni, Mau beli baju dimana?” dan yang lebih ekstrim lagi menurut saya “Ni, ayo hari ini aja ke toko bla bla bla, nanti abis loh model baju yang bagus, gak bisa Meugang kamu ni.” Hadeuhh. Seperti itulah salah satu hal unik menurut saya tentang Tradisi Meugang di Aceh. Bagi sebagian besar masyarakat, Meugang berarti harus dengan baju baru. Selain karena hari Meugang bagi masyarakat Aceh merupakan hari spesial sebelum ramadhan, juga karena pada saat meugang, mereka tidak hanya berkumpul dirumah sendiri, melainkan saling mengunjungi rumah kerabat satu sama lain.

     4.       Berbondong-bondong ke Pantai

Hal lain yang masih identik dengan hari Meugang yaitu Pantai. Bagi masyarakat Aceh, khususnya Kota Meulaboh, pantai menjadi tempat yang wajib dikunjungi ketika hari Meugang. Selain untuk menikmati suasananya, juga menjadi ajang mereka mempererat silaturahmi antar keluarga., teman, ataupun sahabat. Jadi jangan heran ketika hari Meugang di Aceh, hampir semua pantai-pantai yang ada akan sangat ramai dengan pengunjung.






Rabu, 10 Juni 2015

Ternyata 2 Tahun itu tidak lama…..

Entah kenapa tiba-tiba saja lagu dari Letto “Senyumanmu” yang mengalir ringan dari speaker laptop membuat saya ingin menarikan jari-jari manis ini ke keyboard dengan santainya menuliskan apa yang sedang terfikirkan sore ini. Sore selepas makan siang yang terlambat sebenarnya. Diatas sebuah kasur lemas yang sudah menemani istrahat saya selama hampir 2 tahun ini dirantau orang, didalam sebuah kamar sederhana berisikan barang-barang yang entah bagaimana nanti harus membereskannya ketika pulang :D

Pulang? Iya, sebentar lagi ternyata saya harus pulang. Ternyata 2 tahun itu tidak lama. Rasanya masih teringat bagaimana kemarin saya melangkahkan kaki dari rumah dan terbang menuju kota ini. Masih teringat juga bagaimana saya pertama kali menginjakkan kaki di kota ini dengan berbagai macam pertanyaan seperti, betahkah saya nantinya disini? Apa yang akan saya lakukan disini? Menyenangkan kah nantinya hidup disini sendirian? dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Tapi ternyata tanpa disadari semuanya berjalan dengan sendirinya, sesuai dengan porsinya masing-masing. Senang ada, sedih ada, kesal ada, rindu ada, cinta pun juga ada *eciiieee. Dan entah bagaimana juga akhirnya bisa saya lewati dari kesemua hal itu.

Senangnya karena saya menemukan keluarga baru disini, kepala desa yang sangat baik, warga desa yang menerima saya dengan baik meskipun kadang-kadang kesal juga kalau mereka berbicara tentang saya dibelakang *berasa artis saja,hehe, kegiatan-kegiatan menyenangkan dengan anak-anak kecil di desa, teman-teman penempatan yang selalu mengajak saya untuk berkeliling aceh, dan kesenangan-kesenangan lainnya.

Kalau sedihnya? Hmmm…. Tidak usah dibahas ya? Sedihnya cukup saya dan Allah yang tahu *Sok Bijak #Okelupakan :D Yang jelas, semua yang sudah terjadi dan sudah saya lewati disini banyak sekali memberikan pelajaran berharga setelahnya. Pekerjaan ini memberikan banyak sekali hal yang sebelumnya tidak pernah saya fikirkan, dan ternyata saya dapatkan.

Salah satunya memberikan saya pemahaman bagaimana hidup dengan baik saat tidak ada seorang anggota keluarga didekat kita, bagaimana mengatasi permasalahan yang saya hadapi, bagaimana bertahan di tengah kondisi yang terkadang jujur menyakitkan.

Ternyata 2 tahun itu tidak lama. Asal kita menikmati dengan sungguh-sungguh apa yang kita kerjakan. Dan tersisa kurang lebih 3 bulan kedepan waktu saya untuk menikmati pekerjaan dan kehidupan disini. Termaksud…..ah sudahlah :D 

Jumat, 05 Juni 2015

BACKPACKER TIPS : SABANG

Indonesia itu Indah Kawan, Indonesia itu kaya, jadi tidak ada alasan untuk tidak menikmati setiap sudut Indonesia. Seperti saya dan dua orang teman saya yang berkesempatan menikmati salah satu destinasi wisata favorit di Aceh, Sabang. Tidak perlu berlama – lama, dalam dua hari kita bisa menikmati segala keindahan Sabang.

Pulau Rubiah
Transportasi

Untuk menuju Sabang bukan merupakan hal yang sulit, berbagai macam penerbangan murah berkisar 1 jutaan dari berbagai kota bisa dengan mudah mengantarkan anda untuk sampai ke Banda Aceh sebelum melanjutkan perjalanan ke Sabang dengan Kapal. Ada dua jenis kapal yang bisa mengantarkan anda ke Sabang, Kapal cepat (45 menit) dengan harga Rp. 45.000/org dan kapal lambat (2 jam) Rp. 23.000/org. Kapal lambat ini biasanya digunakan juga untuk yang membawa kendaraan seperti mobil/motor. Saya dan teman saya waktu itu sengaja menggunakan motor untuk dibawa ke Sabang, jadi kami juga harus membayar biaya penyebrangan Rp. 28.000/motor.
Dari pengalaman pribadi kami, lebih menguntungkan menyewa motor untuk berkeliling Sabang dibanding menyewa mobil. Alasannya sederhana, selain lebih hemat, dijamin anda bisa lebih puas menghirup udara segar di Sabang dan juga akan lebih puas menikmati pemandangan yang disuguhkan. Dengan sedikit kemampuan tawar menawar dengan si penyewa, dari yang sebelumnya diberi harga sewa Rp. 70.000/hari bisa menjadi Rp. 50.000/hari untuk kami berkeliling selama dua hari. 

Penginapan

Penginapan sudah pasti menjadi hal yang cukup penting untuk anda yang senang bepergian ala Backpacker. Bukan hanya sekedar murah, tapi juga aman dan nyaman. Termaksud saya dan teman saya yang karena tidak sempat mengejar kapal terakhir sore itu berhubung berangkat dari kota Meulaboh, akhirnya mau tidak mau harus menginap semalam di Banda Aceh sebelum menyebrang ke Sabang keesokan paginya.  Naluri backpacker pun ambil bagian, kami berhasil mendapatkan penginapan di dengan harga Rp.135.000/malam dengan fasilitas lengkap (Ac,bed,tv,kamar mandi,lemari) serta aman dan sangat nyaman untuk kami bertiga. Di Banda Aceh sendiri, sebenarnya banyak penginapan/hotel murah yang bisa kita temui, kalau mau sedikit usaha untuk mencari. Begitu juga dengan di Sabang, dengan harga Rp. 100.000/malam kami sudah mendapat fasilitas yang cukup untuk istirahat dan mandi. Selain itu di Sabang juga tidak terlalu sulit untuk menemukan penginapan ataupun hotel, tinggal sesuaikan dengan keinginan dan kantong kita.

Harus Ngapain aja di Sabang?

                 "Where Wonderful Indonesia Start From. Itulah kata sebagian orang tentang Sabang."

   -  Menikmati udara segar Danau Aneuk Laot

Lokasi wisata pertama yang kami kunjungi ketika tiba di Sabang. Tidak begitu jauh dari pusat kota, dan sangat cocok untuk anda yang ingin mencari inspirasi dalam hal apapun itu. Suasananya yang tenang, udara sekitar danau yang menyapa lembut, dan beberapa gazebo untuk bersantai, menjadikan Danau ini wajib untuk dikunjungi. Lokasi pemancingan dan arena outbond di sekitar danau ini juga menjadikan danau ini sering dijadikan lokasi gathering.

     -   Berfoto di Pantai Anoi Itam

Dari Danau Aneuk Laot, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Anoi Itam. Pantai yang juga menjadi favorit wisatawan yang berkunjung ke Sabang. Jaraknya sekitar 13 km dari kota sabang. Selain pemandangan pantainya dengan air yang biru kehijaun serta deburan ombaknya yang sangat memanjakan mata, hal menarik lainnya adalah disekitar pantai terdapat bukit – bukit cantik dan juga beberapa benteng peninggalan jepang. Tidak heran jika para wisatawan sangat senang berfoto dengan latar belakang bukit dan benteng termaksud kami bertiga.

     -  Bersantai di Sabang Fair

Mungkin terdengar seperti sebuah event/acara, tapi bukan. Sabang fair merupakan salah satu tempat di Sabang. Layaknya ikon kota sabang, dimana didalamnya terdapat beberapa taman untuk bersantai dan juga arena bermain untuk anak. Namun yang tidak kalah menariknya, di sabang fair ini jika malam hari sangat ramai dengan pedagang berbagai macam kuliner. Setelah berkeliling di dua tempat di hari pertama, malam itu kami sempatkan menikmati bakso bakar sambil bermalam minggu di sabang.

    -   Snorkeling di Pantai Iboih dan Pulau Rubiah

Dua tempat ini yang sangat terkenal di Sabang, dan menjadi tujuan wajib jika ke Sabang. Sekitar 16 km dari kota sabang, pagi itu kami sepakat untuk ber snorkeling ria di iboih dan pulau rubiah. Pemandangan bawah lautnya begitu indah, ikan warna warni, karang-karang yang cantik dan air laut yang kehijauan menjadi santapan istimewa untuk setiap wisatawan.  Dan berkat snorkeling di pulau rubiah ini, saya berhasil mengalahkan satu ketakutan saya yaitu, takut tenggelam. Tidak bisa berenang, tapi nekat ingin berfoto di dalam air bersama pemandangan indah bawah laut, akhirnya berkat bantuan teman, berhasil juga akhirnya bawa pulang oleh-oleh foto didalam air bersama ikan-ikan dan karang. Sekedar info juga untuk yang ingin snorkeling ataupun berkeliling pulau rubiah, tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup dengan Rp. 30.000 untuk sewa alat snorkeling dan Rp. 50.000/org untuk keliling Pulau rubiah dengan menggunakan boat dijamin anda akan merasakan nuansa berbeda di Sabang.

   -  Menikmati Es Kelapa Muda dan Sunset di Puncak KM 0 Indonesia

Tugu KM 0 Indonesia
Puas menikmati alam bawah laut Pantai Iboih dan Pulau Rubiah, kami melanjutkan perjalanan menuju Tugu KM 0 Indonesia. Ini hal yang jangan anda lewatkan ketika berkunjung ke Sabang, karena selain anda bisa melihat langsung tugu KM 0 Indonesia yang menjadi tanda dimulainya perjalanan di Indonesia, anda juga bisa menikmati tenggelamnya matahari dengan sempurna dari ujung barat Indonesia, karena tugu KM berada di ketinggian. ditemani dengan es kelapa muda dan udara dingin yang keluar dari pepohonan, semakin menambah lengkap suasana. Satu hal lagi, setiap pengunjung di KM 0, bisa membawa pulang sertifikat sebagai tanda anda sudah pernah ke KM 0 Indonesia, menarik bukan?

Makanan yang murah meriah

Tidak hanya urusan transportasi dan penginapan yang harus ditekan biayanya, makanan pun demikian. Kebiasaan para backpacker hanya membawa duit seadanya demi menghindari kebocoran dimana-mana. Sudah pasti tidak ada salahnya, selagi kita masih bisa mengontrol yang masuk ke perut dan tentunya tetap bergizi. Pengalaman selama di Sabang, kami bisa menikmati makanan murah namun tetap bergizi seperti nasi gurih dan lontong sayur, cukup dengan Rp. 8000 untuk lauk telur dan Rp. 10.000 untuk lauk ayam. Selain itu untuk pecinta sate, di Sabang juga bisa menikmati sate khas yaitu sate gurita hanya dengan Rp. 10.000/porsi saja.