Jumat, 27 Februari 2015

Maulid Nabi di Meulaboh - Aceh Barat

Maulid di Aceh
Setahun lebih berada di Aceh  tepatnya di Kabupaten Aceh Barat, Maulid Nabi kali ini menjadi Maulid kedua yang saya ikuti (bisa jadi Maulid terakhir)  . Beda daerah sudah pasti beda tradisinya juga. Begitupun yang saya alami di Aceh. Tradisi Perayaan Maulid yang tidak biasa menurut saya. Kenapa saya bilang tidak biasa, karena kalau melihat langsung mulai dari segala persiapan hingga hari H, sangatlah Waahh menurut saya.  Bukan hanya orang dewasa ataupun pemuda yang turut serta, namun sampai ke anak-anak kecil pun tidak mau kalah meramaikan momen ini.
Seperti yang akan saya bagikan kali ini, ini merupakan Maulid yang saya ikuti di Desa penempatan tugas saya. Desa (dalam bahasa Aceh disebut Gampong) Seuneubok Trap, Kecamatan Bubon, Kabupaten Aceh Barat. Perayaan Maulid disini terdiri dari 2 hari, hari pertama merupakan hari masak-masak untuk ibu-ibu dan remaja putri, dan juga hari untuk  membersihkan lingkungan mesjid yang akan digunakan untuk zikir bersama yang dilakukan oleh bapak-bapak dan pemuda-pemuda di desa.
Hal tidak biasa pertama menurut saya, pada saat hari persiapan tersebut, di Mesjid (dalam bahasa Aceh kadang disebut juga Meunasah) selain dipasang tenda dan tikar diluar mesjid, juga dipasang gantungan tali yang mengitari mesjid dan tenda tersebut. Dimana ditali tersebut telah digantung berbagai macam jenis snack . Pasti ada yang bertanya untuk apa snack-snack itu? Nah disitulah salah satu letak keunikan Maulid di Aceh. Snack-snack itu nantinya akan diperebutkan oleh para tamu/rombongan zikir dari beberapa desa tetangga.
Sementara pemuda dan bapak-bapak mempersiapkan segalanya di mesjid, acara masak-masak dirumah pun sudah dimulai. Dulu saya pernah bertanya, Maulidnya kan besok, kok masak-masaknya hari ini? Ternyata hal tidak biasa kedua yaitu, mereka mulai masak-masak sehari sebelum hari H, karena dalam satu kepala keluarga di desa, sangat banyak bahan makanan yang harus mereka persiapkan untuk mengisi menara Maulid (hehe ini bahasa saya saja) kalo dalam bahasa Aceh disebut IDANG (semacam bambu yang disusun melingkar, dan digunakan untuk menyimpan semua lauk pauk).

Bahan makanan itulah nanti yang akan disusun menyerupai menara, yang akan dibagikan dan dinikmati bersama oleh para tamu/rombongan zikir. Saya pun tidak mau ketinggalan ambil bagian dalam acara masak-masak tersebut, selain karena saya memang hobi mencicipi jenis-jenis masakan hehehe, juga untuk menjalin silaturahmi dengan masyarakat di desa tempat tugas saya selama di Aceh.
Saya  & IDANG yang telah selesai disusun dan dihias ^_^
Lanjut hari kedua merupakan hari perayaan Maulid dimulai (26/2/2015). Acaranya dimulai setelah sholat dzuhur, namun dari pagi kami semua sudah sibuk-sibuk untuk menyusun lauk pauk di Idang. Ada dua Idang yang digunakan, Idang pertama tempat menyimpan lauk pauk, dan Idang kedua untuk menyimpan nasi. Nasi yang dibuat pun biasanya nasi yang menggunakan macam-macam bumbu (di Aceh disebut nasi minyak). Inilah hal tidak biasa yang ketiga menurut saya, berbagai macam jenis lauk disusun menjadi satu didalam Idang.
Pada saat acara berlangsung, suasananya begitu sangat meriah. Para tamu/rombongan zikir berdatangan dan mulai mengisi tempat yang telah disediakan. Namun satu hal yang belum saya ketahui jawabannya, yang hadir bisa dibilang semuanya adalah pria, baik yang tua,remaja,maupun anak-anak pria. Sementara yang wanita menunggu hanya menyaksikan dari luar dan sebagian ada yang menjaga Idang-Idang. Namun tetap tidak mengurangi nilai dari perayaan Maulid itu sendiri.
Setelah acara zikir selesai, (di Aceh disebut Meudikee) hal tidak biasa yang berikutnya menurut saya yaitu, para tamu/rombongan zikir akan berkumpul sesuai dengan desa mereka masing-masing, duduk bersama ditengah-tengah Idang yang siap untuk disantap ataupun dibawa pulang. Biasanya satu desa sudah disiapkan satu atau dua Idang yang jumlahnya sudah sesuai dengan jumlah tamu/rombongan zikir tersebut. makanya kenapa mereka dibagi berdasarkan desa masing-masing.
Isi IDANG siap dibagikan
Well, Seperti inilah perayaan Maulid yang ada di Aceh. Mungkin terlihat beda dari yang lain, namun disitulah keunikan tersendiri yang mereka punya, dan juga sudah menjadi tradisi selama bertahun tahun. Selain untuk merayakan hari jadi Nabi Muhammad SAW, Maknanya sendiri tidak lain untuk memperat silaturahmi antar warga desa. Kalo ada yang niat menyaksikan langsung, tahun depan boleh ke Aceh langsung,hehheh. Senyum dulu dong :) 


Senin, 23 Februari 2015

Warna - Warni Anak Rantau

          Mungkin sudah jadi hukum alamnya, seorang anak yang sudah dewasa akan mulai berpikir untuk memulai kehidupannya sendiri. Mulai berencana untuk mencari jalan sendiri, mulai berani untuk siap menerima segala resiko yang akan diterima dari perbuatannya, mulai mencari segala hal yang bisa membuatnya mengambil keputusan sendiri, dan siap untuk bertanggung jawab akan dirinya sendiri. 

            Jauh ataupun tidak, berada di perantauan (entah untuk belajar,atau bekerja)  bukan hal yang mudah kawan. Seperti kata seorang kawan "Kadang-kadang kita harus sedikit bohong sama keluarga tentang hidup kita di rantau". Contohnya jika ditanya "Sudah makan siang belum nak?" sudah bu/pak. walaupun makan siang dan malam harus dijamak demi menghemat uang kiriman ataupun gaji bulan itu. 

            Saat sakit melanda, "Gimana kabarnya nak, sehat kan?" alhamdulillah sehat bu/pak. walaupun demam,sakit kepala,meriang,encok mampir karena kerjaan yang bejibun ataupun mondar mandir dikampus mengejar dosen pembimbing dan lagi lagi ditolak (disitu kadang kita merasa sedih). Ketika lembaran demi lembaran di dompet mulai menjauh, aksi pun dimulai : mencari tempat makan yang paling murah tapi tetap mengenyangkan. 

            Namun tidak selalu susah jadi anak rantau, karena begitu kiriman datang/gaji masuk, rasanya semua yang kita inginkan, mau kita penuhi saat itu juga. walaupun hanya sebagian kecil yang terpenuhi paling tidak ada sedikit kepuasan setelah mendapatkan apa yang kita inginkan. 

    Tapi pernah tidak kita berpikir kalau orang tua dirumah sebenarnya sangat mengkhawatirkan anaknya yang dulu selalu menemani mereka. ketika kita mulai terbiasa dengan kehidupan kita sendiri, percayalah ada kesedihan di hati ibu bapak jauh dikampung halaman sana. Sedih karena takut kita melupakan mereka, sedih karena kita bukan anak kecil lagi yang bisa mereka ajak main ketika kecil dulu. Sungguh kalau kalian pernah berfikir, ini hal yang begitu menyesakkan dada bukan?

         So, kawan-kawan yang  sedang menjalani hidup di rantau, ataupun yang berencana untuk merantau, satu hal yang perlu kita ingat baik-baik dalam hati yaitu, sejauh apapun kita melangkah, ada masa dimana suatu saat kita harus kembali. Kembali memeluk erat tubuh ibu bapak, melepas rindu dari tanah rantau. Senyum dulu dong :)
            
             

Senin, 09 Februari 2015

New Year Trip

      Actually, dibilang new year trip sih ngga juga, karena memang bukan perjalanan yang direncanakan khusus buat tahun baru. But hanya sekedar keinginan dadakan lantaran kangen dengan kampung halaman,heheh plus pengen pemulihan setelah sakit. Yup....tiket perjalanan udah ditangan untuk keberangkatan tanggal 2/01/15 dengan rute pertama BTJ - SUB dari Sultan Iskandar Muda Airport. kenapa BTJ - SUB? padahal kampung saya di sulawesi sana. Iya, ke sby ini pun tanpa ada perencanaan terlebih dahulu sama sekali (boros ya kalimatnya? ahh..entahlah :D) jadi tujuan ke sby sebenarnya untuk keperluan khusus dengan beberapa orang teman saya, tapi sekalian kopdar dengan salah seorang temen lain juga (ehmm...skrg sih temen deket (read: pacar) heheh) he must so special right? sampai saya bela-belain untuk ketemu doi langsung di sby. tapi disini saya ngga akan bicara soal 'Dia' I just want to share tentang perjalanan singkat saya ini temen-temen. 



      Di sby saya cuma mampir dua hari, tanggal 4/01/15 i continue my trip dengan tiket penerbangan lainnya menuju Kota Kendari Tercinta. berbekal booking number yang di smsin "Tra****ka" jam 4 subuh wib saya numpang sama om taksi menuju juanda. rute saya hari itu untungnya ngga pake mampir jkt lagi, just SUB - UPG - KDI. ngga sabar rasanya pengen cepet cepet sampe rumah. jam 5 kurang 10 alhamdulillah udah sampe juanda, jadwal boarding jam 06.00, menunggu lah saya dengan satu biji roti sebagai sarapan pagi itu. dan jam 06.00 lebih 15 pesawat akhirnya take off menuju makassar. berhubung harganya lebih murah, jadi naik pesawat ini ajahh : 



      Sayangnya saya ngga sempat mengambil foto saya sendiri berhubung kali ini benar-benar jalan sendiri,heheh. dari SUB - UPG hanya sekitar 1 jam, dan alhamdulillah tiba di makassar dengan selamat meskipun saat itu cuaca sedang buruk. namun untuk perjalanan selanjutnya menuju kendari pesawat dengan nomor penerbangan bla bla bla....delay hingga waktu yang belum diketahui karena memang hujan sedang lebat lebatnya saat itu. ya mau ngga mau harus sabar nunggu aja dari pada kayak saudara kita kemarin kan. selang setengah jam berikutnya akhirnya panggilan untuk penumpang dengan tujuan KDI pun muncul...yeeeaaayyy....pulangg kampung beneran. 

        Meskipun masih tersisa rintik rintik hujan, tapi alhamdulillah perjalanan ke KDI lancar, dan tiba dengan selamat di bandara Haluoleo. tak sabar rasanya, saya pun segera menghubungi kakak saya yang memang janji untuk menjemput di bandara. welcome kendari..hehhhe just info, saya memang lahir dan besar di kota kendari ini (tau kan kendari itu dimana? yup...ibukota sulawesi tenggara) aahh...lega rasanya after perjalanan panjang BTJ-KNO-SUB-UPG dan finally KDI. di kendari I just spend 2 weeks untuk cuti dari aktifitas sebagai PSP3. setelah itu tanggal 18/01/15  I have to back again to Aceh. kalian semua tau lah rute selanjutnya balik ke Aceh...masih sama dengan rute berangkatnya, but ngga ke sby lagi kok,heheh. 

        Well, That's all yang pengen saya bagi kali ini. next time saya posting lagi deh perjalanan - perjalanan saya yang lain. Thank U...... Senyum dulu :)