![]() |
| Maulid di Aceh |
Setahun lebih
berada di Aceh tepatnya di Kabupaten
Aceh Barat, Maulid Nabi kali ini menjadi Maulid kedua yang saya ikuti (bisa
jadi Maulid terakhir) . Beda daerah
sudah pasti beda tradisinya juga. Begitupun yang saya alami di Aceh. Tradisi
Perayaan Maulid yang tidak biasa menurut saya. Kenapa saya bilang tidak biasa,
karena kalau melihat langsung mulai dari segala persiapan hingga hari H,
sangatlah Waahh menurut saya. Bukan hanya
orang dewasa ataupun pemuda yang turut serta, namun sampai ke anak-anak kecil
pun tidak mau kalah meramaikan momen ini.
Seperti yang
akan saya bagikan kali ini, ini merupakan Maulid yang saya ikuti di Desa
penempatan tugas saya. Desa (dalam bahasa Aceh disebut Gampong) Seuneubok Trap,
Kecamatan Bubon, Kabupaten Aceh Barat. Perayaan Maulid disini terdiri dari 2
hari, hari pertama merupakan hari masak-masak untuk ibu-ibu dan remaja putri,
dan juga hari untuk membersihkan
lingkungan mesjid yang akan digunakan untuk zikir bersama yang dilakukan oleh
bapak-bapak dan pemuda-pemuda di desa.
Hal tidak
biasa pertama menurut saya, pada saat hari persiapan tersebut, di Mesjid (dalam
bahasa Aceh kadang disebut juga Meunasah) selain dipasang tenda dan tikar
diluar mesjid, juga dipasang gantungan tali yang mengitari mesjid dan tenda
tersebut. Dimana ditali tersebut telah digantung berbagai macam jenis snack . Pasti ada yang bertanya untuk apa snack-snack itu? Nah disitulah
salah satu letak keunikan Maulid di Aceh. Snack-snack itu nantinya akan
diperebutkan oleh para tamu/rombongan zikir dari beberapa desa tetangga.
Sementara pemuda
dan bapak-bapak mempersiapkan segalanya di mesjid, acara masak-masak dirumah
pun sudah dimulai. Dulu saya pernah bertanya, Maulidnya kan besok, kok
masak-masaknya hari ini? Ternyata hal tidak biasa kedua yaitu, mereka mulai
masak-masak sehari sebelum hari H, karena dalam satu kepala keluarga di desa,
sangat banyak bahan makanan yang harus mereka persiapkan untuk mengisi menara
Maulid (hehe ini bahasa saya saja) kalo dalam bahasa Aceh disebut IDANG
(semacam bambu yang disusun melingkar, dan digunakan untuk menyimpan semua lauk
pauk).
Bahan makanan
itulah nanti yang akan disusun menyerupai menara, yang akan dibagikan dan
dinikmati bersama oleh para tamu/rombongan zikir. Saya pun tidak mau
ketinggalan ambil bagian dalam acara masak-masak tersebut, selain karena saya
memang hobi mencicipi jenis-jenis masakan hehehe, juga untuk menjalin
silaturahmi dengan masyarakat di desa tempat tugas saya selama di Aceh.
![]() |
| Saya & IDANG yang telah selesai disusun dan dihias ^_^ |
Lanjut hari kedua
merupakan hari perayaan Maulid dimulai (26/2/2015). Acaranya dimulai setelah
sholat dzuhur, namun dari pagi kami semua sudah sibuk-sibuk untuk menyusun lauk
pauk di Idang. Ada dua Idang yang digunakan, Idang pertama tempat menyimpan
lauk pauk, dan Idang kedua untuk menyimpan nasi. Nasi yang dibuat pun biasanya
nasi yang menggunakan macam-macam bumbu (di Aceh disebut nasi minyak). Inilah hal
tidak biasa yang ketiga menurut saya, berbagai macam jenis lauk disusun menjadi
satu didalam Idang.
Pada saat
acara berlangsung, suasananya begitu sangat meriah. Para tamu/rombongan zikir
berdatangan dan mulai mengisi tempat yang telah disediakan. Namun satu hal yang
belum saya ketahui jawabannya, yang hadir bisa dibilang semuanya adalah pria,
baik yang tua,remaja,maupun anak-anak pria. Sementara yang wanita menunggu
hanya menyaksikan dari luar dan sebagian ada yang menjaga Idang-Idang. Namun tetap
tidak mengurangi nilai dari perayaan Maulid itu sendiri.
Setelah acara
zikir selesai, (di Aceh disebut Meudikee) hal tidak biasa yang berikutnya
menurut saya yaitu, para tamu/rombongan zikir akan berkumpul sesuai dengan desa
mereka masing-masing, duduk bersama ditengah-tengah Idang yang siap untuk
disantap ataupun dibawa pulang. Biasanya satu desa sudah disiapkan satu atau
dua Idang yang jumlahnya sudah sesuai dengan jumlah tamu/rombongan zikir
tersebut. makanya kenapa mereka dibagi berdasarkan desa masing-masing.
![]() |
| Isi IDANG siap dibagikan |
Well, Seperti inilah
perayaan Maulid yang ada di Aceh. Mungkin terlihat beda dari yang lain, namun
disitulah keunikan tersendiri yang mereka punya, dan juga sudah menjadi tradisi
selama bertahun tahun. Selain untuk merayakan hari jadi Nabi Muhammad SAW, Maknanya
sendiri tidak lain untuk memperat silaturahmi antar warga desa. Kalo ada yang
niat menyaksikan langsung, tahun depan boleh ke Aceh langsung,hehheh. Senyum
dulu dong :)



Terima kasih bang :)
BalasHapusTerima kasih bang :)
BalasHapus